Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Alam dan Lingkungan

INGAT, PANDEMI BELUM BERAKHIR !!

Yang semakin mempersulit penanganan pandemi COVID-19 adalah adanya orang-orang yang terinfeksi namun Asimt0matik. Artinya ada orang-orang yang terinfeksi COVID-19 namun tidak menunjukan gejala sama sekali, atau kalau istilah di kita itu Orang Tanpa Gejala. Sulit untuk melacak penderita yang asimtomatik, dan mereka sangat berpotensi menjadi pembawa yang semakin memperluas jangkauan penyebaran COVID-19 ini. "Menurut laman National Geographic Indonesia, CDC atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika memperkirakan sebanyak 40% orang yang terkena COVID-19 merupakan Asimtomatik atau Orang Tanpa Gejala." Sehingga ada efek piramida gunung es dalam penanganan pandemi ini, artinya bisa saja kasus-kasus yang berhasil di data hanyalah sebagian saja. Di belakangnya ada jauh lebih besar kasus yang tidak tercatat karena memang tidak terlacak.

Pengaruh Covid-19 Terhadap Penanganan HIV dan TB di Afrika Selatan.

Tidak selang beberapa lama setelah melakukan mitigasi terhadap wabah COVID-19, seperti menutup jalur penerbangan dan menutup sekolah-sekolah, pemerintah Afrika Selatan melakukan langkah berani dengan menerapkan kebijakan lockdown  atau karantina nasional pada tanggal 27 Maret 2020. Kebijakan ini di terapkan setelah muncul 402 kasus dan terus berlipat ganda setiap 2 hari. Meskipun jumlah penduduk nya hanya 0.7% dari pupulasi dunia, Afrika Selatan merupakan rumah dari 20% (7.7 s/d 7.9 Juta orang) beban global infeksi HIV dan termasuk di antara negara-negara terdampak TB terparah di dunia, dengan tingkat co-infection HIV-TB sebesar 59%, atau peringkat ke 4 tertinggi di dunia. Namun langkah yang bertujuan untuk menekan penyebaran virus dengan membatasi pergerakan dan interaksi orang ini memiliki konsekuensi yang tidak di inginkan terhadap penyediaan layanan kesehatan umum, terutama pencegahan dan pengobatan Tuberculosis (TB) dan HIV. Sumber daya utama di Afrika ...

Bumi vs COVID-19

Pandemi COVID-19 memaksa manusia untuk mengurangi segala aktivitas normal, mau-tidak mau harus membatasi interaksi sosial secara fisik, sehingga harus memperbaharui cara hidup normal sebelumnya menjadi cara hidup normal yang mampu berkompromi dengan paparan COVID-19. Disisi lain, saat banyak negara memberlakukan kebijakan Social Distancing , atau bahkan karantina total, bumi memiliki kesempatan untuk memulihkan diri. Berhentinya aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap berkurangnya emisi polusi yang mencemari alam selama ini. Udara menjadi semakin bersih, lingkungan kian ramah untuk para binatang dan makhluk hidup lainnya. Kicauan burung terdengar lebih nyaring dengan berkurangnya suara-suara mesin buatan manusia.

Hutan Taiga

Setiap belahan bumi memiliki musim tertentu yang kadang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Secara garis besar iklim di bumi terbagi menjadi 4 yaitu iklim tropis, sub tropis, sedang, dan dingin. Perbedaan iklim ini membuat setiap area memiliki ciri khas makhluk hidup masing-masing. Ini terjadi karena tidak semua makhluk hidup dapat bertahan di suatu lingkungan yang berbeda. Tidak aneh kalau selanjutnya iklim dapat menentukan tipe habitat yang ada di suatu wilayah. Tipe habitat seperti ini biasanya disebut dengan bioma .

Bencana Terus Mengancam, Salah Siapa ?

Jika kita lihat akhir-akhir ini bencana sepertinya terus meningkat, dari mulai peningkatan aktivitas gunung berapi, badai, gempa bumi, banjir, gelombang tsunami, dll. Jika terus berlanjut, ini akan menjadi faktor yang akan merusak lingkungan, kerusakan hutan, menurunnya populasi flora dan fauna, gagal panen, dll. Lebih jauh lagi ini akan mengancam keberlangsungan hidup kita manusia. Setidak nya ini menurut kita… Tapi tahukah anda, bahwa ini semua, bencana yang terus terjadi hanyalah efek, atau akibat dari suatu hal ? Bagaimana kalau ini sebenarnya justru upaya alam untuk mencapai keseimbangan kembali ? Yah benar, percaya atau tidak, aktivitas manusia akhir-akhir ini berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan. Menurut laman www.wwf.or.id, seperti ini fakta-fakta yang ada di lapangan :

Efek Rumah Kaca vs Global Warming

Efek rumah kaca terus meningkatkan suhu global yang memicu perubahan iklim global secara ekstrim. Ini sangat membahayakan lingkungan dan keseimbangan alam. Bagaimana efek rumah ini bisa terjadi, dan apa sebenarnya efek rumah kaca ini ? Sederhananya begini,  panas matahari yang diterima oleh bumi, tidak semuanya diserap oleh bumi, sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer dan dilepaskan oleh atmosfer ke ruang angkasa. Panas yang diterima atmosfer ternyata juga tidak semua dilepaskan ke antariksa, tapi sebagian lagi dipantulkan kembali ke bumi. Siklus inilah yang disebut dengan efek rumah kaca.

Ternyata Emisi Gas Rumah Kaca sangat Berbahaya bagi Padi.

Emisi gas rumah kaca yang semakin meningkat sangat berdampak pada kenaikan suhu global, dan setiap 1 derajat kenaikan suhu sudah cukup untuk memicu perubahan iklim. Perubahan iklim berarti perubahan karakteristik alam, badai semakin sering terjadi, gunung berapi semakin aktif, gempa semakin sering terjadi, dan lain sebagainya. Sebenarnya ini adalah proses alam dalam rangka mencapai keseimbangan, namun dampaknya buat manusia, sangat tidak baik. Apakah hanya sebatas itu ? Ternyata tidak, meningkatnya kadar CO2 juga ternyata berdampak pula pada tumbuhan, salah satunya padi.

Hutan Bakau (Hutan Mangroove)

  Di Indonesia hutan mangroove disebut sebagai hutan bakau atau hutan payau. Vegetasi mangroove nampak agak seragam, selalu hijau dan berkembang dengan baik didaerah berlumpur yang berada dalam jangkauan pasang surut air laut. Di pantai berpasir atau pantai berbatu serta gosong karang berpasir atau berlumpur, kalaupun terdapat mangroove tumbuhnya kurang baik. Hutan mangroove ditandai adanya bentukan akar sebagai “akar udara” ( aerofor , akar cerutu, ditemukan pada banyak penggenangan habitat pasir-kerikil, misalnya akar Sonneratia Acida ); “akar tunjang” ( stilt root , pada habitat lembek, lumpur, misalnya akar Rhyzopora mucronata ) dan “akar lutut” ( kne root , pada penggenangan jarang, misalnya akar Brugugeira gymnorhiza ).

Hutan Rawa dan Hutan Mangrove

  A. Hutan Rawa Pada umumnya hutan rawa ditemukan disekitar danau atau sungai tenang yang terlindung, pada pinggiran air tergenang, dan dalam lekuk. Hutan dalam rawa gelagah demikian itu serupa dengan rawa iklim sedang dan biasanya terdiri dari tumbuhan monokotil tegak, seperti misalnya spesies gelagah ( Phragmites ), papirus ( Cyperus Papyrus ), ekor kucing ( Typha ). Akar tumbuhan ini terendam, sedangkan tunasnya berada jauh diatas permukaan air. Akar dan tunasnya yang terendam air mempunyai rongga udara untuk membantu pengudaraan. Vegetasi rawa menghuni habitat berair tawar, pH masam sampai sangat masam dan jarang terdapat pH sampai 6, kecuali pada saat kondisi setelah hujan. Permukaan air yang turun naik menyebabkan terjadinya pengeringan tanah secara periodik yang membantu proses perubahan kimia tanah atau mempercepat laju dekomposisi bahan organik.

Hutan Musim dan Hutan Gambut

A. Hutan Musim Didaerah tropis basah terdapat sejumlah besar hutan dengan satu atau dua musim kering yang sangat nyata (musim kering biasanya diberi batasan sebagai massa paling sedikit satu bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm).  Ditempat ini hutannya tidak begitu subur, komposisinya terdiri dari hutan meranggas dan tidak meranggas (hijau abadi). Selama musim kering, banyak dari daun pepohonan luruh. Tingkat peranggasan dalam musim kering tergantung pada kekeringan dan lamanya musim kering.  Secara ekologi , hutan tropis berirama musiman. Hutan ini terutama terjadi karena sifat curah hujan musiman (biasanya hujan muson ) dan jumlah total curah hujan yang nisbi lebih sedikit. Pada umumnya, hutan ranggas tropis ditemukan pada pinggiran hutan hujan tropis di Afrika, Madagaskar, Indonesia, Amerika tengah dan Selatan, tetapi hutan ini termasuk juga hutan yang dideskripsi sebagai hutan muson yang ditemukan di India, Myanmar, Indocina dan Australia bagian utara. ...

Pembagian Hutan Hujan Tropis

Salam apresiasi buat temen-temen APRAK semua, selamat datang lagi di halaman ini tentunya halaman aprak-we.blogspot.com. Senang rasanya bila kami dari lungkungan komunitas keluarga APRAK dapat berbagi dan berkomunikasi dengan temen-temen dunia maya semua.   So…, kami tunggu komen-komen nya ya…   Baiklah, melanjutkan materi selanjutnya tentang Ekologi Hutan Tropis, sekarang kita akan membahas tentang pembagian hutan hujan tropis berdasarkan ketinggiannya. Berdasarkan ketinggiannya, hutan hujan tropis dapat di bagi menjadi tiga, yaitu :     Hutan Hujan Bawah     Hutan Hujan Tengah dan     Hutan Hujan Atas

Hutan Hujan Tropis

Salam Apresiasi,, Apa kabar teman-teman APRAK semua, semoga semua dalam keadaan baik ya… Semoga juga teman-teman APRAK tidak bosan untuk terus berkunjung ke blog apra k ini. Baiklah teman-teman, kita akan melanjutkan materi sebelumnya yaitu tentang Hutan tropis. Materi yang akan kita bahas kali ini adalah tentang “Hutan Hujan Tropis” Hutan hujan tropis adalah bioma berupa hutan yang selalu basah atau lembap, yang dapat ditemui di wilayah sekitar khatulistiwa atau terletak diantara garis . Curah hujan dikawasan hutan hujan tropis berkisar antara 2000 s/d 4000 mm setiap tahunnya. Suhu udaranya sekitar dan seragam, dengan kelembaban udara rata-rata sekitar 80% dan tumbuh didataran rendah hingga ketinggian 1200 mdpl.   Vegetasi yang tumbuh dan berkembang membentuk hutan hujan tropis memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki manfaat atau fungsi tertentu sebagai berikut :

Tipe Hutan Tropis

Tropika adalah daerah di permukaan Bumi, yang secara geografis berada di sekitar ekuator, yaitu yang dibatasi oleh dua garis lintang 23.5 derajat LS dan 23.5 derajat LU atau Garis Balik Utara (GBU, Tropic of Cancer ) di utara dan Garis Balik Selatan (GBS, Tropic of Capricorn ) di selatan. Area ini terletak di antara 23.5° LU dan 23.5° LS , dan mencakup seluruh bagian Bumi yang dalam setahun mengalami dua kali saat Matahari tepat berada di atas kepala (di utara GBU dan di selatan GBS Matahari tidak pernah mencapai ketinggian 90° atau tepat di atas kepala). 

Faktor Biotik dalam pembentukan Tanah

Komponen biotik adalah komponen lingkungan yang terdiri atas makhluk hidup. Pada pokoknya makhluk hidup dapat digolongkan berdasarkan jenis-jenis tertentu, misalnya golongan manusia, hewan dan tumbuhan.  Makhluk hidup berdasarkan ukurannya digolongkan menjadi mikroorganisme dan makroorganisme. Dalam lingkungan hutan, komponen biotik tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah. Vegetasi memiliki andil yang cukup besar didalamnya, karena salah satu bahan utama pembentukan tanah adalah dari vegetasi yang berkembang dilingkungan tersebut. Tahapan pertama pengaruh vegetasi terhadap tanah adalah perubahan iklim mikro tanah. Selain itu adalah intersepsi curah hujan dan modifikasi suhu dan kelembaban permukaan tanah.

Geomorfologi Tanah

Pemahaman yang lebih baik dari sifat fisika dan kimia tanah kawasan tropis selayaknya dilihat dari awal proses pembentukan tanahnya. Proses pembentukan tersebut lebih lanjut dipelajari dalam cabang ilmu khusus yang disebut geomorfologi .  Geomorfologi adalah "ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri" . Geomorfologi biasanya diterjemahkan sebagai ilmu bentang alam. Tanah sebagai unsur utama pembentuk bentang alam ( landscape ) terbentuk dari interaksi yang sangat kompleks dari faktor iklim, bahan induk ( parent material ) atau batuan induk ( parent rock ), vegetasi dan makhluk hidup lain, seperti biota tanah, topografi, aktifitas manusia, erosi, gejala tektonik, vulkanik, sedimentasi dan sebagainya.

Tanah Hutan Tropis

Tanah adalah akumulasi tumbuhan alam yang bebas dan menduduki sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Ada empat lapisan dari tanah yakni, lapisan tanah atas ( topsoil ), lapisan tanah bawah ( subsoil ), lapisan batuan induk terlapuk ( regalith ) dan lapisan batuan induk ( bedrock ). Tanah lapisan paling atas umumnya sangat subur. Hal ini karena lapisan tanah atas bercampur dengan humus.Tanah yang kaya dengan humus berwarna lebih hitam dibandingkan jenis tanah yang lain.

Iklim Mikro di Hutan Hujan Tropis

Air sebagai pemasok uap air diudara dalam hutan berasal dari dua sumber, yaitu : Air dari permukaan yang basah, ranting, daun atau lantai hutan. Transpirasi aktif tumbuhan melalui stomata didaun.

Kelembaban Udara

Lingkungan hutan tropis juga dicirikan dengan kelembaban udara yang tinggi. Dalam beberapa kasus, kelembaban udara dapat mencapai titik embun , yaitu kandungan air mencapai jenuh diudara. Di Indonesia kelembaban udara relatif rata-rata 80%. Kelembaban tertinggi misalnya terjadi di hutan hujan tropis yang terletak didataran tinggi. Pegunungan diperbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara , di punggung gunung perbatasan antara Sulawesi Tengah , dan Sulawesi Tenggara sering tercatat angka kelembaban relatif 100% terutama terjadi pada suhu udara mencapai minimum dipagi hari.

Sirkulasi Angin

Melanjutkan pembahasan di artikel terdahulu tentang iklim, dimana pengaruh iklim sangat besar sekali dalam pembentukan dan penyebaran vegetasi diatas permukaan bumi. Kali ini kita akan meneruskan pembahasan tentang Komponen-komponen iklim untuk melengkapi materi yang sudah kita bahas sebelumnya yaitu curah hujan dan suhu udara. Materi yang akan kita bahas kali ini adalah sirkulasi angin. Hukum-hukum Newton tentang kesetimbangan, percepatan dan reaksi-reaksi menjadi dasar dalam pergerakan partikel. Hal tersebut juga berlaku didalam atmosfer yang mengandung banyak partikel. Partikel tersebut bergerak dengan adanya gabungan gaya-gaya yang sedang berinteraksi. Interaksi gaya tersebut menyebabkan ketidak seimbangan dalam atmosfer, karena itu masa udara akan bergerak agar keseimbangan tetap terjaga.  Pergerakan massa udara itulah yang disebut angin. Sirkulasi pergerakan massa udara karena adanya perbedaan suhu, pada akhirnya akan menyebabkan perbedaan tekanan. Dengan dem...

Suhu Udara

Radiasi matahari dikawasan tropis sangat intensif dibandingkan dengan daerah ugahari. Radiasi tersebut berhubungan dengan lintasan matahari. Minimal satu tahun sekali terjadi lintasan matahari di zenit atau tepat berada dititik kulminasi.  Pergerakan matahari terhadap bumi kearah Utara dan Selatan khatulistiwa berlangsung sepanjang tahun dengan sudut terjauh 23 0 27’. Sudut paling utara terjadi pada tanggal 21 Juni dan sudut terjauh selatan terjadi pada tanggal 22 Desember. Pada garis 0 derajat matahari 2 kali mencapai zenit masing-masing tanggal 21 Maret dan 22 September.